Memaknai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di era globalisasi dengan menitikberatkan pada attitude adalah langkah yang sangat tepat. Saat ini, tantangan terbesar pendidikan bukanlah mencari informasi, melainkan bagaimana menyikapi informasi tersebut dengan bijak.
Berikut adalah rumusan makna peringatan Hardiknas di era globalisasi yang dikaitkan dengan pentingnya attitude, yang bisa Bapak/Ibu jadikan bahan renungan, materi bimbingan, atau bahkan amanat pembina upacara:
1. Attitude sebagai “Filter” Utama di Tengah Arus Globalisasi
Di era globalisasi, batas antarnegara menghilang secara digital. Anak-anak SMP kita setiap hari terpapar budaya, tontonan, dan tren dari seluruh dunia hanya lewat genggaman tangan. Makna Hardiknas saat ini adalah menyadarkan siswa bahwa kecerdasan intelektual dan penguasaan teknologi (gadget) tidak akan membawa kebaikan jika tidak dibarengi attitude yang benar. Attitude—seperti sopan santun, empati, dan integritas—adalah benteng atau “filter” agar mereka tidak kehilangan jati diri bangsa (nilai-nilai Pancasila) di tengah gempuran budaya asing.
2. Mengembalikan Ruh Pendidikan: “Bukan Hanya Pintar, Tapi Benar”
Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, menekankan bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dan budi pekerti. Di era di mana artificial intelligence (AI) dan mesin pencari bisa menjawab hampir semua soal matematika atau sejarah, peran sekolah harus bergeser. Hardiknas menjadi momentum bahwa sekolah adalah tempat belajar menjadi manusia seutuhnya. Siswa harus paham bahwa sehebat apapun skill teknologinya, jika ia tidak punya adab kepada guru, tidak menghargai teman, dan mudah melakukan cyberbullying, maka pendidikannya belumlah berhasil.
3. Relevansi Semboyan Ki Hajar Dewantara di Era Digital
Tiga semboyan legendaris pendidikan kita sangat relevan untuk membentuk attitude anak zaman now:
- Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di depan memberi teladan): Di era krisis keteladanan di media sosial, guru dan siswa yang lebih tua harus berani menjadi role model (teladan) dalam bertutur kata yang baik, baik di dunia nyata maupun di kolom komentar media sosial.
- Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah membangun semangat): Membangun semangat kolaborasi, bukan kompetisi yang saling menjatuhkan. Attitude bekerja sama sangat dibutuhkan di dunia kerja global nanti.
- Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan): Mendorong siswa untuk berani mengambil sikap yang benar meskipun itu tidak populer di kalangan teman-temannya (misalnya: menolak ikut-ikutan tren yang melanggar norma).
4. Etika Digital (Digital Etiquette) sebagai Wujud Attitude Modern
Globalisasi membuat anak-anak kita hidup di dua dunia: nyata dan maya. Memperingati Hardiknas berarti mengajarkan bahwa adab di dunia maya sama pentingnya dengan adab di dunia nyata. Membagikan berita hoaks, menggunakan bahasa kasar dalam game online, atau merendahkan orang lain di media sosial adalah bentuk nyata dari attitude yang buruk. Pendidikan masa kini bertanggung jawab meluruskan hal ini.
Ringkasan Pesan untuk Siswa: “Anak-anakku, dunia global bisa membuatmu menjadi apa saja dan siapa saja. Kamu bisa belajar apapun dari internet. Tapi satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh mesin adalah adab. Jadilah generasi yang pikirannya mendunia, teknologinya canggih, namun hatinya tetap membumi dengan kesopanan dan karakter khas bangsa Indonesia.”
Oleh : Suud Emo Saputra – Wakil Kesiswaan SMP Negeri 217 Jakarta